- Peringatan Hari Kartini
- Kampanye No Plastic Bag
- Sosialisasi Pencegahan dan Penyalahgunaan Narkoba dan Pornografi.
- Proklamasi Generasi Muda Untuk Menggunakan Media Sosial Bagi Kepentingan Nasional
Aduhai adindaku, matahari telah pulang keperaduannya. Sedang aku masih pada kebimbangan akan kemana arah tujuan. Langkah kaki ini sudah letih menuju hatimu, tapi selalu saja di depanku banyak pertanyaan apakah kedatanganku adalah hal yang paling kamu dambakan.
Aduhai wanitaku, sungguh sebentar lagi hari beranjak malam. Apa kamu tega membiarkan aku di luar sendirian. Berkali-kali kuketuk pintu hatimu, jangankan untuk masuk jawaban saja tak pernah aku dapatkan.
Apa kamu akan membiarkan aku pergi lagi, padahal sudah teramat jauh langkah kaki yang aku tempuh untuk mencarimu. Apakah kamu akan membiarkan kapal ini berlayar kembali, apa tak iba melihat nahkoda yang kelelahan ini. Mohon ijinkan aku berlabuh di hatimu.
Katamu kamu takut kecewa. Kamu takut aku jadikan dirimu sebagai dermaga. Bila lelahku sudah hilang akupun akan pergi menghilang. Lalu bagaimana kamu tau akan pergi sayang, sedangkan kamu tak pernah memberinya kesempatan.
Sayang, percayalah padaku. Sejauh apapun nanti kakiku melangkah, bila kamu sudah menjadikan hatimu sebagai rumahku yang paling nyaman, alasan apalagi yang membuatku tak ingin pulang.
Jakarta , 9 April 2016
Gion Tanaka
Saat yang lain berdampingan , entah halal atau belum
Aku iri liat mereka, mengasihi, mencintai dan berbagi.
Saat yang lain berduaan, aku berdiam di rumah
Merenungkan hadirmu, inginku seperti mereka
Mungkin indah rasanya, kita bisa duduk berdua
Aku bisa merasakan hangat pelukmu
Ketika mereka berbagi cerita, aku juga bercerita kepada-Nya
Dalam sujud dan doa, kapan jodohku akan tiba
Saat mereka saling merindu, aku juga merindumu
Hanya aku belum tahu siapa kamu
Ketika mereka bergandengan, aku juga ingin merasakan
Menggandengmu nanti yang sudah dihalalkan
Aku ingin hanya tanganmu yang aku sentuh
Semoga tanganmu cuma aku yang menyentuh
Ketika semua merasakan cerianya berpacaran
Aku hanya merasakan kesepian
Melantunkan doa-doa untukmu
Mungkin kamupun begitu
Melantunkan doa-doa untukku
Wahai kekasihku yang masih menjadi rahasia-Nya
Apa mau berpacaran denganku
Berpacaran setelah aku meminangmu
Berpacaran setelah aku berjanji kepada orang tuamu
Berpacaran ketika sudah halal dan mendapat ridho-Nya
Selamat pagi kamuku,
Cintaku, Ratuku, Gadisku, Permaisuriku
Entah apapun kusebut dirimu
Ah habis kata-katamu untuk merayu cantikmu
Habis warnaku untuk menghiasi keindahanmu
Tanpa kupoles lagi dengan seni yang aku miliki
Kamu tetap saja ayu
Kamu tetap saja indah
Kamu tetap saja cantik
Beruntungnya aku bisa melihat karya seni dari Sang Maha Agung dalam wujud dirimu...
Maka tak pernah kunilai kekuranganmu
Mana mungkin aku mencelamu
Yang menciptakanmu saja Maha Indah
Juga jangan kau anggap dirimu sempurna
Sebab yang menciptamu di Maha Segalanya
Aku mengagumimu sebab aku mengagumi Dia
Bagaimana aku harus berjalan di kelamnya malam
Sedang sedikitpun cahaya tak kau bagikan
Aku merayap di malam pekat
Seperti si buta kehilangan tongkat
Tega nian dirimu puan
Sedikitpun tak berbagi belas kasihan
Rembulan
Sebetulnya kilauanmu itu untuk siapa
Bukankah aku disini lebih berhak kepadamu
Apa derajat awan yang lebih tinggi
Sehingga kau melupakan aku sang bumi
Apa aku harus mengemis menengadah
Sudahlah, aku pasrah
Biar saja gelap ini tak mendapat cerah - Pupus -
Jakarta, 20 Maret 2016
Instagram gion.tanaka