Saat yang lain berdampingan , entah halal atau belum
Aku iri liat mereka, mengasihi, mencintai dan berbagi.
Saat yang lain berduaan, aku berdiam di rumah
Merenungkan hadirmu, inginku seperti mereka
Mungkin indah rasanya, kita bisa duduk berdua
Aku bisa merasakan hangat pelukmu
Ketika mereka berbagi cerita, aku juga bercerita kepada-Nya
Dalam sujud dan doa, kapan jodohku akan tiba
Saat mereka saling merindu, aku juga merindumu
Hanya aku belum tahu siapa kamu
Ketika mereka bergandengan, aku juga ingin merasakan
Menggandengmu nanti yang sudah dihalalkan
Aku ingin hanya tanganmu yang aku sentuh
Semoga tanganmu cuma aku yang menyentuh
Ketika semua merasakan cerianya berpacaran
Aku hanya merasakan kesepian
Melantunkan doa-doa untukmu
Mungkin kamupun begitu
Melantunkan doa-doa untukku
Wahai kekasihku yang masih menjadi rahasia-Nya
Apa mau berpacaran denganku
Berpacaran setelah aku meminangmu
Berpacaran setelah aku berjanji kepada orang tuamu
Berpacaran ketika sudah halal dan mendapat ridho-Nya
Wednesday, March 23, 2016
Mari Berpacaran
Sunday, March 20, 2016
Kamuku
Selamat pagi kamuku,
Cintaku, Ratuku, Gadisku, Permaisuriku
Entah apapun kusebut dirimu
Ah habis kata-katamu untuk merayu cantikmu
Habis warnaku untuk menghiasi keindahanmu
Tanpa kupoles lagi dengan seni yang aku miliki
Kamu tetap saja ayu
Kamu tetap saja indah
Kamu tetap saja cantik
Beruntungnya aku bisa melihat karya seni dari Sang Maha Agung dalam wujud dirimu...
Maka tak pernah kunilai kekuranganmu
Mana mungkin aku mencelamu
Yang menciptakanmu saja Maha Indah
Juga jangan kau anggap dirimu sempurna
Sebab yang menciptamu di Maha Segalanya
Aku mengagumimu sebab aku mengagumi Dia
Pupus
Bagaimana aku harus berjalan di kelamnya malam
Sedang sedikitpun cahaya tak kau bagikan
Aku merayap di malam pekat
Seperti si buta kehilangan tongkat
Tega nian dirimu puan
Sedikitpun tak berbagi belas kasihan
Rembulan
Sebetulnya kilauanmu itu untuk siapa
Bukankah aku disini lebih berhak kepadamu
Apa derajat awan yang lebih tinggi
Sehingga kau melupakan aku sang bumi
Apa aku harus mengemis menengadah
Sudahlah, aku pasrah
Biar saja gelap ini tak mendapat cerah - Pupus -
Jakarta, 20 Maret 2016
Instagram gion.tanaka
Saturday, March 19, 2016
Perbedaan Tulisan Puitis dengan Puisi
Seringkali pembaca terkecoh, bahkan penulisnya sendiri yang justru keliru penafsiran. Sebuah tulisan lewat penggalan-penggalan kalimat yang terangkai dari kosa kata cantik, sudah dianggap puisi. Padahal belum tentu tulisan tersebut adalah puisi, bisa saja itu adalah cuma disebut sebagai kalimat puitis.
Contoh ringan:
Menjelang senja aku bernyanyi sendiri
Beranda rumah mungil berdinding biru muda
Seekor ulat bulu mengeja bebayangan hampir memudar
Cuaca masih sedikit lembab
Semilir angin mengelus pori-poriku
Daun berguguran sisa hujan ini siang
Beberapa ekor ayam berlarian menuju kandang
Langit menggulita
Suara adzan mulai mengalun
Selalu ada aroma manis disepotong sore
Indah...
Intinya. Puisi adalah bahasa ekspresi jiwa yang menusuk jantung hati penulisnya, sekaligus menggigit perasaan pembacanya. Sedangkan kalimat puitis bahasa ekspresi pikiran yang terangkai dari proses retorika, inspirasi yang dicari-cari.
Masih Ada Cinta
Masih Ada Cinta-
Sudah suratan
Menjadikan sebuah perpisahan
Putihnya cinta harus berakhir kegagalan
Sabar sayang
Usah tangisi kegagalan kita bersama
Bukankah kita sudah sama-sama mencoba
Kegagalan yang pernah kita rasakan
Tak selayaknya membuat kita menyendiri
Pasti akan kau temui cinta yang lebih suci
Buang semua dukamu itu
Bukankah badai sudah berlalu
Past akan kau temui cinta yang baru
Masih ada cinta
Yang menunggumu di luar sana
Gagal dan luka usah terus dirasa
Semangkuk Bakso
Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.
“Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan,” gerutunya dalam hati. “Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!”
Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.
Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.
“Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam,” sapa si tukang bakso.
“Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang,” jawabnya tersipu malu.
“Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak.
... baca selengkapnya di Semangkuk Bakso Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu
Thursday, March 17, 2016
Surat Pendek Untuk Calon Pendampingku
Surat Pendek Untuk Calon Pendampingku
Untukmu Calon Pendampingku...
Terima kasih atas kesabaranmu dalam menunggu. Tak mengapakan untuk saat ini kita sama-sama menanggung rindu yang kian meninggi ini?
Atau kamu memaksaku segera mengunjungimu, namun akan terlalu banyak godaan yang aku ataupun kamu tak bisa saling menahan, kemudian kita terjerumus ke dalam penyesalan.
Bagiku untuk saat ini, kita lebih baik saling menahan diri, meski kita belum bertemu, namun semoga doa-doa kita lebih dulu bercumbu, merayu pada Maha Cinta agar diberi kemudahan untuk kita menjalin ikatan dalam restu-Nya. Ku harap engkaupun berprinsip sama sepertiku.
Semua aku kembalikan padamu, keputusan ada ditanganmu. Bila engkau tak mau menungguku, silahkan mencari yang lain. Mungkin kamu memang bukan dari tulang rusukku. Bukankah setiap sesuatu akan kembali kepada pemiliknya.
Tapi bila engkau mau menungguku, kusalutkan akan kesabaranmu. Semoga dalam pencarian dan penantian, kisah kita seperti Adam dan Hawa , yang satu berjuang mencari dan yang satu bersabar menanti.