Sunday, March 6, 2016

Bagaikan Pelangi Setelah Hujan

Bagaikan Pelangi Setelah Hujan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sore hari, ketika aku pulang dari mengajar les, aku melihat sebuah perjuangan hidup seorang bapak tua yang mendorong gerobak dagangannya yang berisi jagung rebus. Aku terus melihat bapak itu merapikan jagung-jagung rebusnya yang sudah masak. Tetes peluh bapak itu pun terlihat. Taukah sobat, apa yang aku bayangkan? Aku membayangkan jika bapak itu adalah papa ku. Mendorong kesana kemari gerobak dagangannya demi mencari rezeki untuk anak dan istrinya.

Sekejap bayangan itu membuat ku sedih, betapa besarnya semangat bapak tersebut untuk membahagiakan keluarganya. Di tengah lamunan ku ini, tak terasa gerimis datang dan kini semakin deras menjadi hujan besar yang menerpa tubuh ku, sehingga aku menjadi basah kuyup. Aku mencari tempat berteduh di sebuah halaman toko milik orang lain. Aku melihat bapak tadi sedang terburu-buru mendorong gerobaknya untuk dapat berteduh. Kini bapak itu berteduh tepat di samping ku. Ku lihat kembali tubuh bapak tersebut yang sudah tua dan keriput. Ku lirik jagung-jagung yang masih menggunung di gerobaknya. Ya Tuhan, aku tau hujan ini adalah rezeki dari mu, namun berilah petunjuk mu agar bapak ini bisa mencari rezekinya. Ya Tuhan bantulah bapak ini ya Tuhan.

Tidak berapa lama kemudian bapak itu melirik ku yang kedi
... baca selengkapnya di Bagaikan Pelangi Setelah Hujan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Aku Membenci Senja


semenjak ketiadaanmu disini
aku tak lagi menyukai senja
entah kenapa
sebab langit yang merah saga
sudah serupa luka yang menganga
perih...
apalagi bila senja diguyur hujan
perihal kesedihan tentang kenangan
seperti dilipat gandakan
aku mencoba bertahan
aku sendirian
menelan setiap kenyataan atas kedustaan
bahkan aku sering mendoa
semoga petang segera datang
biar bayang - bayangmu hilang
tenggelam bersama surya terbenam
dan cinta yang dulu menyala-nyala
ikut pula padam

Gion Tanaka
Jakarta, 6 Maret 2016

Monday, February 29, 2016

Pada Fajar Pertama

Pada fajar pertama
Di bulan ketiga
Ku temui Engkau
Doa-doaku berbaris
Menapaki tangga dunia
Menuju ke langit-Mu
Harap-harap cemas
Menantinya
Pada fajar pertama
Doaku turun lagi
Bersama irama hujan
Aku bingung kenapa doaku pulang
Aku tanya, kenapa sayang
Jawab-Mu lantang
Kata-Mu aku ini jalang
Terlalu lancang
Melangitkan doa
Dengan bibir mencela Dia
Aku menangis, mencela siapa?
Kembali aku bertanya
Pada seorang gadis  yang kau buat menangis
Sebab kau cela keadaannya yang papa
Kau anggap dia peminta-minta
Kemaren lusa, dia mengadu
Kapan aku menghinannya
Aku berpura-pura lupa
Ia kau kata dia tak layak mencinta-Ku
Aku membisu,
Ternyata doanya lebih dulu  sampai pada-Mu
Daripadaku
Kemudian tangisan pecah menjadi hujan
Aku mencela insan
Aku mencela Tuhan

Thursday, February 25, 2016

Sepotong Surat Untuk Wanita

kiranya
nona sudi membebaskan saya
simpuhku ini meminta merdeka
dari penjajahan cinta
yang nona cipta
sungguh nona...
badan ini tak lagi kuasa
terlalu berat beban rasa
yang yang harus di tanggung raga
jangan biarkan hamba binasa
karenanya

Biarkan kami lelaki ini merdeka. Bukan ditindas dengan dalih cinta. Ia memang lelaki mencintai anda kaum hawa, tapi para pria bukanlah budak yang harus anda kekang, anda perintah bahkan terkadang anda menginjak-injak harga diri kami. Anda bukan penjajahkan?

Beri kami kepercayaan, kami sudah tahu kemana kami akan pulang. Bukankah hati anda itu yang akan menjadi rumah kami paling nyaman? Bukan ketika kami memerlukan pelukan, saat letih dalam bekerja seharian, anda menjadi penguasa seolah anda yang kami butuhkan.

Lama- kelamaan kami para pria juga akan jenuh bila seperti itu terus, dalam agama kami, memang kaum anda teramat di agungkan, sebagai surga buat anak-anak kami. Tapi yang perlu anda renungkan adalah kami juga menjadi penghantar bagi anda untuk menggapai surga-Nya. Lewat pengabdian anda kepada kami, para suami.

Wednesday, February 24, 2016

Untuk Cinta Yang Tak Kau Aminkan

...... bukan hal mudah memang
untuk mengetahui perasaanmu kepadaku
tapi setidaknya semua sudah aku ungkapkan
daripada aku berada pada ketidakpastian
begini aku lebih nyaman
untuk melangkah berjalan
bukan seperti sebuah sampan
yang terombang-ambing di lautan
terima kasih puan
pada tiap kejujuran
bahwa doaku tak mungkin engkau aminkan
kini biar hamba menuju tepian
biar rasaku  tidak tenggelam
terlalu dalam

Tuesday, February 23, 2016

Ijinkan Rindu Memeluk Malam

apakah menjadi malam selalu seperti ini?
menyuguhkan kelembutan
namun selalu ditinggalkan
Pagi
kenapa engkau tak memberi kesempatan
biar rindu mendapat pengampunan

Monday, February 22, 2016

Senyummu Lebih Memabukkan

Engkau balas pagiku dengan kecup mesra, bahkan kecupmu mendahului embun yang memeluk daun. Aku belum mengenal jelas siapa kamu, yang aku tahu pelukanmu lebih menghangatkan daripada secangkir kopi yang biasa aku rasakan. "Siapa kamu?" tanyaku.

Engkau tersenyum, tak ada kata yang untuk membalas kata-kataku. Aku semakin bingung, pikiranku linglung. Aku mencoba berdiri tapi badanku terasa limbung. Kenapa lagi aku, apa semalam aku mabuk lagi?

Engkau kemudian berdiri menghampiriku setelah merapikan rambutmu di depan cermin yang biasa aku gunakan pula untuk bertanya tentang diriku. Engkau bilang aku mabuk. Tetapi bukan mabuk karena minuman yang memabukkan.

Ya, memang semenjak mengenalmu aku berjanji tak lagi meneguk alkohol. Tapi kenapa pagi ini aku merasakan mabuk yang sama. aku mulai menelaah kenapa aku seperti ini. Engkau masih tersenyum, dan tersenyum lagi. Semakin lama engkau tersenyum semakin merenggut kesadaranku, ternyata aku mengerti senyumanmu yang membuatku begini, memabukkanku bahkan separah ini dan akhirnya aku ambruk di pelukan yang teramat nyaman.