Monday, February 15, 2016

Temani Senjaku Bu

Ibu
maukah menemani senjaku
sebab aku sekarang sendirian
bahkan untuk melihat jingga
aku enggan
Bu..
Kenapa waktu berjalan begitu cepat
Waktu kecilku terlalu sesaat
Padahal aku masih ingin bercanda di pelukmu
Menikmati senja hangat dalam dekapmu
Biar mega merasa cemburu
Melihat kebersamaanku denganmu
Bu...
Masih jelas dalam ingatanku
Ketika aku menjerit ketakutan
Sebab rona senja membuat langit seperti terbakar
Namun engkau memelukku dengan sabar
Langit sedang tersenyum
Begitu katamu
Liat saja pipi anak yang tersenyun malu
bukankah kemerahan juga
katamu
langit sedang malu sayang
engkau segera beranjak dewasa
tapi masih ingin selalu di timang
Bu.. sekarang aku sudah besar
Tapi kenapa senja masih jingga
apa dia sedang mengejekku bu
awan - awan yang merah
seperti orang menjulurkan lidah
lihat bu.. langit menertawakanku
katanya aku sendirian
temani aku
biar aku tak kesepian

Saturday, February 13, 2016

Puisi Valentine

hadiah aku ke kamu
tak hanya sedekar cokelat
atau bunga seikat
yang aku beri di 14 Febuari
kau merasakan kasihku setiap hari
dari setiap perhatian yang aku beri
setia sebagai janji pengikat
serta doa setiap saat

Cintamu Buat Aku Buta

sempat aku mengutukmu nilam
saat datang malam
justru cintamu kau buat padam
kau buat ruang hatiku kelam
padahal aku tak meminta terang
cukup bagi sedikit cahayamu
aku sudah senang
ah, dimana perasaanmu nilam
mengapa kau begitu kejam
sebab cinta
kau buat aku buta
kau suruh pula
berjalan di gulita
kau tega

Friday, February 12, 2016

Ijinkan Ku Abadikan Namamu

Dengan apa aku hendak menulis sajak
Sedang pena yang kusebut cinta
Kau bawa pergi entah kemana
Apa aku hanya mengarang dalam benak
Pastinya tak bertahan lama
Dan akhirnya lupa
Aku memintamu kembali
Biar malam ini aku tulis puisi
Dengan namamu sebagai pengisi
Kiranya dengan itu
Kisah kita abadi selalu

Catatan Hati Yang Ditinggalkan

Hari ini aku telah belajar kepada langit, betapa ikhlas ia di tinggalkan hujan. Dan gemericik air yang jatuh memilih tanah sebagai tembat ia rebah. Seperti kamu yang pergi meninggalkanku yang kau anggap tak lebih wah.

Sedang dari bumi, aku juga belajar ikhlas menerima apa yang langit jatuhkan. Ia tak meminta. Begitu pula aku tak mau menyalahkan dia yang merebutmu dari sisiku, sebab mungkin aku masih seperti langit yang masih harus belajar memahami, kau pergi meninggalkanku sebab engkau fikir hatiku bukanlah tempat yang nyaman untukmu tinggal. Seperti hujan yang ketakutan berada di awan sebab ia terlalu tinggi

Kepadamu, aku tak mau menyalahkan, biar hujan memilih dimana tempat ia berdiam, di langit, di bumi, di hatiku, atau bahkan hati yang lain. Sebab dirimu masih dalam pencarian. Terserah kamu memilih di hati mana akan berdiam.

Kau bertanya kenapa aku tak menahanmu? Aku tak mau mengekangmu, sebab aku sadar cinta ith adalah titah Tuhan, Dia yang mengatur hidup, mati, rejeki dan jodoh seseorang. Lihat saja hujan, setelah berdiam di bumi lambat laun ia akan pulang , menguap menjadi awan. Begitu pula dirimu, bila kelak jodohku, pintu hatiku setia menanti engkau datang. Sayang

Menanti Hujan

ada yang lebih menyakitkan
dari sekedar jatuh cinta
ataupun ditinggalkan
adalah kau cipta kenyamanan
namun tak kau beri kepastian
di langitku kau gantung
sejuta harapan
seperti menunggu mendung
yang tak segera menjatuhkan hujan

Wednesday, February 10, 2016

Maaf

Kamu adalah cahaya
Yang lupa aku jaga
Dari nyala
Kini pijarmu padam
Sebab cemburu yang berakhir dendam
Hariku menjadi kelam
Siang serupa malam
Riang berubah suram
Kekasih
Sudikah salahku kau maafkan
Kiranya pintumu kau bukakan
Ijinkan hatimu menjadi tempatku pulang
Senjaku segera datang